10.27.08
Sungai Pua – Bukittinggi
Lebaran di kampuang halaman… Sungai Pua masih sama, perlu 4 lapis selimut tebal untuk bisa tidur nyenyak, mesti mandi pake air panas biar ga menggigil kedinginan, dan ga bisa melihat langit berwarna biru yang bersih karena hampir setiap saat selalu ada awan yang menutupi. Bahkan sinyal GPS tidak bisa tembus, padahal aku ingin memetakan jalan-jalan yang kulewati. Masih beruntung sinyal GPRS aktif, jadi masih bisa browsing-browsing email dan googling beberapa kali. Sungai Pua dikelilingi Gunung dan perbukitan. Di sebelah timur, menjulang Gunung Marapi yang tingginya 2891 m dan sampai sekarang masih aktif meletus. Di sebelah selatan terlihat gunung Singgalang yang katanya semua binatang beracun bisa ditemukan disana. Telaga Dewi adalah daya tarik pendaki gunung Singgalang, telaga ini terbentuk setelah adanya letusan Gunung bertahun-tahun lalu. Jika memandang ke sebelah barat, terlihat kota Bukittinggi, bahkan ngarai Sianok bisa terlihat cukup jelas. Berbagai kenangan muncul di kepala, satu persatu setiap melewati satu tempat. ^_^
Perjalanan ke kampuang halaman dimulai dari bandara Minangkabau. Untuk ke Sungai Pua, aku menyewa Taxi, pilihan lainnya adalah mobil Travel atau Bus. Dari si pak Sopir kuketahui bahwa jalan menuju Bukittinggi masih macet. Tapi karena ada jalan lain yang tidak harus melalui Bukittinggi, macet bisa dihindari. Ngelewatin Lembah Anai dengan air terjunnya yang tepat berada di pinggir jalan, dan nge-video-in monyet-monyet yang banyak nongkrong di tepi jalan raya daerah Lembah Anai. Ohya, kalau di bandara lain hanya menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris saat pengumuman, di bandara Minangkabau ditambah bahasa minang. “Salamaik Datang di bandara International Minangkabau”.
Ternyata bangunan kosong di depan rumahku yang dulu sempat digunakan Bank Perkreditan Rakyat sebelum pindah ke bangunan baru, saat ini telah menjadi kantor kepala jorong. Jorong adalah nama adat yang setingkat dengan desa. Bangunan baru lain yang sudah berdiri adalah Balairung Walinagari yang bangunannya roboh sejak aku masih SD. Nagari adalah gabungan beberapa jorong yang merupakan persatuan suatu adat. Aku sendiri tinggal di kab Agam, kecamatan Sungaipua, nagari Sungaipua, jorong Tangah Koto. Di kecamatan Sungaipua, selain nagari Sungaipua, masih ada nagari Sariak, batu Palano, dll.
Suku (hampir sama dengan nama keluarga) adalah pengenal antar masyarakat. Jika aku satu suku dengan seseorang, dimanapun lokasinya, berarti aku masih satu keluarga dengan orang tersebut dan aku tidak boleh menikah dengan dia. Suku-ku adalah suku Sikumbang yang kudapat dari Ibu (Matrilineal masih berlaku sampai sekarang). Ohya, jangan berpikir kalau salah satu adat di tempatku adalah adat membeli mempelai pria. Karena adat ini tidak berlaku di kab. Agam, setahuku hanya berlaku di kabupaten Padang Pariaman.
Bicara mengenai Balairung walinagari Sungai Pua, rencananya Balairung ini akan diresmikan tanggal 20 Oct 2008 kemarin. Semua perantauan urang Sungai Pua dihimbau untuk Pulang Basamo, termasuk Abang (panggilanku untuk kakak co-ku) yang merantau di Cimahi. Alasanku pulang kampung lebaran ini salah satunya karena acara pulang basamo ini, kesempatan yang langka untuk bisa berkumpul dengan teman-teman, tetangga-tetangga, di kampung halaman. Tapi karena pembangunannya belum selesai, diundur ke bulan Desember setelah Hari Rayo Haji. Sayang sepertinya aku ga bisa cuti lagi. ![]()
Di depan Balairung ada Tanah Lapang, Taman Kanak-Kanak, SDN 16 dan SMP 1 Sungai Pua, guru-guru yang dulu mengajariku masih aktif ga ya??
Dulu Sungai Pua terkenal dengan pandai besi-nya. Di sepanjang jalan akan terdengar denting besi yang dipukul untuk diolah menjadi berbagai alat Rumah Tangga. Para pengrajin besi ini dikenal dengan panggilan ‘Tukang Apa Basi”. Suara-suara denting besi itu kudengar waktu masih duduk di bangku SD, setelah teknologi makin canggih, dan teknik pengolahan makin berkembang suara-suara itu mulai hilang. Tapi bukan berarti Pandai Besi di Sungai Pua juga hilang, walau saat ini mata pencaharian terbesar adalah berdagang plus konveksi dan pertanian. mmmm, entah kenapa jadi teringat kalau di tempatku banyak sekali Parak Batuang (Bambu yang tumbuh berkelompok). Katanya hanya orang-orang tertentu yang bisa memotong bambu, alasannya karena katanya (lagi) ada ular Bambu (Ula Pucuak) yang sering bertengger di pucuk bambu dan mesti diusir dulu. heheheh, ga tau deh tu bener atau ga, tapi kalau mengenai ular yang ditemukan di Parak Batuang, memang beberapa kali terjadi. ^_^
Ke Bukittinggi Kota Wisata di hari ke 4 liburan, ramenya…. Ah ya, sebagai kota wisata Bukittinggi banyak didatangi di saat-saat liburan seperti ini. Semua pendatang yang Taragak pulang kampuang mengunjungi Pasa Ateh Pasa Bawah (Pasar Atas Pasar Bawah) dan Pasa Aua Kuniang (Pasar Aur Kuning) untuk belanja baju yang mostly adalah baju muslim, souvenir yang bisa ditemui di hampir semua sudut pasar atas, kerudung, jilbab dan mukena dengan motif yang tidak akan ditemukan di kota lain, atau mencari makanan khas minang yang berada di bagian belakang pasar atas seperti Karupuak sanjai, Karupuak sanjai balado, karupuak karak kaliang (bentuknya kayak huruf 8), atau karupuak jangek (kerupuk kulit sapi/kerbau yang dibumbui, di rebus sampai matang dan dikeringkan). Bisa beli ikan bilih yang hanya hidup di danau Singkarak dan dijual setelah dimasak terlebih dahulu, jadi bisa disimpan beberapa hari sebagai oleh-oleh. Ikan Bilih yang dijual ini bisa langsung dimakan looo… Kalau pengen mencoba nasi Kapau yang rasanya sedikit berbeda dari Restoran Padang, bisa ditemukan di pasar Lereng. Pasar ini akan dilalui jika kita berjalan kaki dari pasar atas menuju pasar bawah.
Mau bersantai di Bukittinggi dengan mengunjungi objek wisata? Ada Kebun Binatang (Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan) yang berlokasi di belakang Pasar Atas dekat Masjid Agung, di dalamnya bisa ditemukan Rumah Bagonjong sekaligus museum Minangkabau, taman bermain, dan museum binatang. Dari Kebun Binatang, dengan melintasi jembatan Limpapeh kita akan tiba di Benteng Ford De Kock, Naik kendaraan umum ke Taman Panorama melihat pemandangan Ngarai Sianok dan menuruni ratusan tangga menuju Lembah Ngarai Sianok dan melihat Lubang Japang di sepanjang jalan. Kunjungi juga museum bung Hatta, atau sekedar jalan-jalan di jalan setapak taman Bung Hatta, atau setelah puas mengambil foto di taman jam gadang, bisa turun ke arah jalan Minangkabau dan Jalan Ahmad Yani. Dulu, sebelum mengunjungi objek wisata, biasanya aku ma keluarga mampir dulu ke Rumah Makan, bungkus Nasi Rames, dan mengadakan piknik kecil di tempat wisata yang dituju. Mmmmmm…. Lamaknyo…
Buat yang suka shopping (ehm, ngingetin diri sendiri), hati-hati dengan harga yang ditawarkan. Para pedagang masih menawarkan harga yg juah lebih tinggi dr harga sebenarnya. Karena terbiasa di daerah dimana harga tidak bisa ditawar, aku “tertipu” juga. Dan rasanya masih kesal, rasanya pgn ngejitak tu penjual. Hehehehe
Ada plaza Bukittinggi yang didirikan Ramayana group. Dulu kehadiran plaza ini sempat diprotes, karena persatuan pedagang takut kehadiran plaza akan mematikan pasar atas pasar bawah sebagai ciri khas Bukittinggi. Ternyata masyarakat masih mencintai pasar atas, ramenya masih tetap sama dengan biasanya.
Beberapa tahun terakhir, masyarakat Minangkabau berusaha menggalakkan prinsip urang Minang, Adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah. BAM atau Budaya Alam Minangkabau menjadi mata pelajaran wajib. Dan menjadikan jilbab sebagai pakaian seragam anak sekolah di kabupaten Agam. Ada cerita saat Ramadhan kemarin yang kudapat dari Uni, karena Ramadhan, semua warung makanan termasuk KFC dan Texas Chicken yang ada di pasar atas, di siang hari hanya melayani pesanan yang hanya bisa dibungkus untuk dibawa pulang. Kalaupun ada yang dibolehkan makan, itu hanya anak2 dan ibu-ibu hamil atau menyusui. Mereka cukup ketat mengawasi pelanggan yang datang, saat seorang cowok duduk makan di Texas Chicken, pelayannya datang dan melarang, si cowok itu cuma senyum-senyum dan menghentikan makannya saat itu juga. Mungkin cowok itu bukan Muslim, tapi ini Ramadhan di Bukittinggi, mesti saling menjaga dan menghormati.
Syukurlah kalau kampuang nan jauah di mato ini masih menjaga Ramadhan. Di perantauan, suasana Ramadhan tidak terlalu berbeda, kecuali rasa haus dan lapar yang dirasakan dan Tarawih tiap malam ke Masjid, tapi mengenai suasana lingkungan tidak jauh berbeda dari hari biasa.
Jika ke Sumatera Barat, akan ditemukan Sekolah Diniyah, Diniyah adalah sekolah setingkat SMP yang banyak mengajarkan Agama Islam. Di Nagari Sungai Pua sendiri ada Diniyah V Jurai, di Nagari Kubang Putiah ada Diniyah Kubang Putiah dan MAN Kubang Putiah. MAN setingkat dengan SMA. Para murid sekolah Diniyah dan MAN biasanya menggunakan Jilbab Lilik. Ini adalah model jilbab yang cara pemakaiannya dengan melilitkan kain jilbab di kepala, bentuknya hanya berupa kain panjang dengan bordiran. Tanpa diolah untuk memudahkan pemakaian. Model jilbab inilah yang membedakan murid Diniyah dan MAN dengan murid SMP dan SMA yang juga memakai jilbab ke sekolah.
Puas napak tilas di Bukittinggi dan Sungai Pua, kuharap tahun depan bisa pulang lagi.
Kalau mau tau lokasi tempat-tempat di atas, bisa dilihat di Platial Map-ku, beberapa tempat sudah kutandai, yang mau nambah tempat-tempat lain, dipersilahkan….
Titin – Sikumbang

